Gudik masih jadi perbincangan di kalangan santri yang bernaungan di bawah pondok pesantren.Orang bilang
gak lulus nyantrinya kalau belum kena gudik.
Gudik atau gudiken (bhs surabaya) sendiri adalah salah satu
penyakit kulit yang mudah menular dari satu orang ke orang lainnya, sehingga
tak jarang menyebar dalam keluarga ketika salah satu anggota keluarganya pulang
kerumah membawa penyakit ini. Bila sebuah keluarga terjangkit penyakit gudik
maka tak ayal akan terjadi ritual menggaruk bersama terutama di malam hari.
Beberapa penderita penyakit gudik menggambarkan seperti gitaran. Gerakan
menggaruk yang mirip bermain gitar di malam hari lantaran rasa gatal yang
ditimbulkannya.
Untuk lebih jelasnya , mari kita baca Info di bawah ini,,,
GUDIK
Skabies (gudik) adalah penyakit kulit menular yang
disebabkan oleh Sarcoptes scabiei
varian hominis (sejenis kutu, tungau), ditandai dengan keluhan gatal, terutama
pada malam hari dan ditularkan melalui kontak langsung atau tidak langsung
melalui alas tempat tidur dan pakaian.
Sarcoptes scabiei adalah kutu (atau tungau) mungil berwarna putih transparan,
berbentuk bulat lonjong. Ukuran kutu (tungau) betina 0,3-0,4 mm, sedangkan si
jantan setengah dari ukuran betina. Di luar kulit, kutu ini hanya dapat
bertahan hidup 2-3 hari pada suhu kamar dan kelembaban 40-80%.
Cara berkembang biak dan penularan:
Setelah membuahi kutu betina maka si pejantan mati. Kutu betina yang sudah
dibuahi akan membuat liang terowongan di kulit, kemudian bertelor sekitar 40-50
butir telor, dan akan menetas setelah sekitar 3-5 hari. Hasil penetasan (larva)
kutu tersebut keluar ke permukaan kulit dan tumbuh menjadi kutu dewasa dalam
waktu sekitar 16-17 hari. (referensi lain menyebutkan 10-14 hari)
Penularan terjadi melalui:
- Kontak langsung, kontak seksual
- Secara tidak langsung melalui
bekas duduk, sprei (alas) tempat tidur serta pakaian.
TANDA-TANDA
keluhan utama pada penderita skabies (gudik)adalah :
- Rasa gatal terutama waktu malam
hari.
- Tonjolan kulit (lesi) berwarna
putih keabu-abuan sepanjang sekitar 1 cm.
- Kadang disertai nanah karena
infeksi kuman akibat garukan.
Lokasi paling sering di sela-sela
jari tangan, telapak tangan, pergelangan tangan, siku, ketiak, daerah payudara,
sekitar pusar dan perut bagian bawah, sekitar kelamin dan pantat. Sedangkan
pada bayi dan anak-anak dapat mengenai wajah, sela-sela jari kaki dan telapak
kaki.
Pada pria bisa mengenai ujung
kemaluan bahkan sekujur kemaluan.
DIAGNOSA
Penetapan diagnosa skabies (gudik) berdasarkan riwayat gatal terutama
pada malam hari dan adanya anggota keluarga atau teman dekat yang sakit seperti
penderita ( ini menunjukkan adanya penularan ).
Pemeriksaan fisik yang sangat penting adalah dengan melihat
bentuk tonjolan kulit yang gatal dan arena penyebarannya.
Untuk memastikan diagnosa skabies (gudik) adalah dengan pemeriksaan mikroskop
untuk melihat ada tidaknya kutu Sarcoptes scabiei atau telurnya.
PENGOBATAN
Pengobatan ditujukan pada pemberantasan kutu Sarcoptes scabiei dan mengurangi
keluhan gatal serta penyulit yang timbul karena garukan.
Antibiotika dapat digunakan jika ada infeksi sekunder, misalnya bernanah di
area yang terkena (sela-sela jari, kelamin, dll) akibat garukan.
TIPS dan ANJURAN
- Periksakan ke Puskesmas,
dokter, dokter spesialis kulit atau Rumah sakit setempat bila menjumpai
penyakit ini untuk mendapatkan pengobatan.
- Cuci semua baju dan alas tidur
(sprei atau sejenisnya) dengan air panas.
- Mandi teratur dengan sabun.
- Apabila ada yang sakit Skabies
(gudik), periksakan semua anggota keluarga yang kontak dengan penderita.
Jika ternyata menderita skabies, obati semuanya secara serempak agar tidak
terjadi penularan ulang.
- Bagi para guru atau Ustadz yang
mendapati murid atau santrinya sakit Skabies (gudik) hendaknya
menganjurkan kepada murid atau santrinya untuk berobat secara serempak di
Puskesmas terdekat atau poliklinik Kulit Rumah Sakit setempat.
PENGOBATAN TRADISIONAL
Untuk pengobatan luar, cukup ambil daun, kulit, batang, atau akar salam
seperlunya. Cuci bersih, lalu giling halus sampai menjad adonan seperti bubur.
Balurkan ke tempat luka, kemudian dibalut.
Obat
Untuk Gudik atau Skabies
Sahabat
frenita, memang tidak enak kalau kita mengalami gatal pada malam hari.
Lagi asyik-asyiknya istirahat, eh malah disibukkan dengan garuk-garuk sela-sela
jari tangan sampai berair.
Mungkin sahabat frenita juga pernah mengalaminya ya? ayo ngaku.. ini yang orang
jawa sering bilang sebagai GUDIK ataupun dalam bahasa medis sebagai SKABIES.
Penyebabnya yaitu Kutu yang bernama Sarcoptes scabei.
Kutu
Sarcoptes scabei dalam mikroskop elektron
Menurut Purba Kuncara, seorang
dokter umum yang bertempat tinggal di Malang, Jawa Timur, biasanya penyakit ini
dialami oleh orang-orang yang tinggal di pondok ataupun asrama. Dan biasanya
anak-anak. Kenapa demikian? karena dikaitkan dengan higiene individu. Misalnya,
sering memakai handuk secara bersamaan, padahal seorang temannya tengah terkena
skabies. Nah loh…
Lokasi yang paling sering terkena adalah di sela-sela jari tangan, siku bagian
dalam, lipak ketiak bagian depan, perut bagian bawah, pantat, paha bagian
dalam, daerah payudara, sekitar kelamin dan pinggang. Nah, pada pria sangat
khas ditemukan pada penis, sedang pada wanita di sekitar aerola mammae. Pada
bayi bisa dijumpai pada daerah kepala, muka, leher, kaki dan telapaknya.
Pengobatan skabies yang terutama adalah menjaga kebersihan untuk membasmi
skabies (mandi dengan sabun, sering ganti pakaian, cuci pakaian secara
terpisah, menjemur alat-alat tidur, handuk tidak boleh dipakai bersama, dll).
Untuk pasien dewasa, biasa diberikan gama benzen heksa klorida atau sering
disebut dengan gameksan, atau mereknya di pasaran adalah Scabisid. Obat
ini tidak dianjurkan pada anak di bawah 6 tahun dan wanita hamil.Pemberian
cukup sekali pada malam hari (sekali saja), tapi bila gejala masih ada, boleh
diulangi seminggu kemudian dan pemberiannya juga cukup sekali.
Permetrin 5% dalam bentuk krim, atau mereknya di pasaran adalah Scabimite,
boleh dipakai untuk bayi di atas 2 bulan karena obat tersebut kurang toksik
dibandingkan gameksan. Tetapi efektivitasnya sama. Pemberian dioleskan
cukup sekali, biasanya malam hari dan didiamkan selama 10-12 jam, kemudian pagi
harinya dicuci bekas salepnya/dimandikan. Bila belum sembuh, boleh diulangi
setelah seminggu.
Obat yang diminum untuk menghilangkan rasa gatal, bisa dengan meminum antihistamin
oral (CTM, loratadin atau cetirizin). CTM boleh diberikan 1-3 x/hari,
sedang loratadin atau cetirizin cukup 1 x sehari pada malam hari.
“Segera obati jika ada anggota keluarga atau teman asrama yang terkena skabies
karena penyakit ini sangat menular. Dan jangan lupa, untuk merendam
dengan air panas semua pakaian yang digunakan oleh penderita, termasuk handuk.
Juga kasur harus sering dijemur”, imbuhnya.